IQRA
IQRA
Ada
hal yang mencengangkan saat saya membaca berita kompas dan situs-situs yang
mengangkat hasil survei UNESCO tentang minat baca masyarakat indonesia sebesar
0,0001 persen. Yang artinya dalam 1000 orang di indonesia hanya ada 1 orang
yang minat membaca. Bahkan, berdasarkan survei ”Most Littered Nation In The
World” tahun 2016, indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara dalam soal
minat membaca, Juara 2 sebelum terakhir!. Menurut Sutan Adil Hendra (wakil
ketua komisi X DPR RI) mengatakan bahwa kurangnya minat masyarakat dalam
membaca dikarenakan minimnya koleksi buku dalam setiap keluarga dan pengelolaan
SDM perpustakan yang masih kurang.
Diluar riset itu semua, dalam
kenyataan sehari-hari kita sering menemukan waktu luang yang acap kali disia-siakan,
seperti melihat snapgram di instagram ataupun whatsapp berulang kali, membaca
hoax serta menyebarkanya, bermain game online sampai lupa waktu, menonton film
dan video-video yang kerap kali tidak bermanfaat/
sama sekali tidak mendidik, dan masih banyak lainya lagi yang belum kita sadari.
itu semua bisa dilakukan dengan satu alat canggih yang sering kita sebut gadget. bayangkan jika itu terus kita
lakukan tanpa henti, berapa banyak karya-karya ulama yang belum sempat kita
baca, berapa kali kita melewatkan kesempatan untuk menggapai cita, kapan ada
waktu untuk kita bermuhasabah mensyukri nikmat dan memohon ampun
kesalahan-kelsalahan kita dalam setiap hari, jika kematian itu pasti mengapa
kita tidak sibuk menempersiapkanya?
Pada
umumnya manusia punya jatah umur 63 tahun, dan rata-rata kita sekarang di
antara umur 18-20 tahun-an, jika dalam sehari 24 jam kita dikurangi waktu tidur
6 jam, shalat lima waktu 1 jam, makan dan rehat 1 jam, maka dalam sehari kita
hanya memiliki jatah waktu kegiatan 16 jam saja. Maka 16 jam dikali 365 dikali
43 = 251,120 jam/ 15,695 hari; perkiraan sisa umur kita di dalam kehidupan,
sebentar bukan?! Itu semua bisa jadi bahan muhasabah kita dalam sisa waktu yang
cukup lama kemarin, apa kontribusi kita di dalam agama, bangsa dan keluarga?
Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda: “sebaik-baiknya
manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain”. Kelalaian
kita dalam memanfaatkan waktu kiranya sudah di ketahui oleh pencipta kita yaitu
Allah SWT, dengan memberikan banyak peringatan berulang kali kepada kita. lihat
dalam surat Al-‘Ashr, Ad-Duha, Al-Lail, Al-Syams, dan lain sebagainya.
Syekh
Taha (Dosen fakultas Ushuludhin Al-Azhar) menyampaikan di muhadarah mingguannya
dalam kajian kitab ihyaulumudin(8/2/2018), bahwa hakikat dunia bisa di lihat
melalui 2 cara, yaitu dengan akal fikiran dan sejarah alam. Keduanya di rangkum
dalam satu perintah firman Allah, yaitu ”bacalah!”(lihat
Q.S 96:1-5). membaca disini bukan hanya sekedar membaca buku atau naskah tulis
lainya saja, namun juga membaca pikiran, kejadian alam, sejarah kehidupan, dan
masih banyak lagi lainya. Karena dengan membaca kita bisa mengerti, dan dengan
mengerti kita tahu apa kelebihan dari apa yang kita baca, dan dengan tau kita
paham siapa dan apa yang harus dikerjakan di dunia ini. Menurut Tafsir Ibnu
Katsir membaca adalah proses mendapatkan ilmu, yang bisa di dapatkan dalam 3
bentuk: yaitu pikiran, lisan dan tulisan, dan ilmu tulis(buku) sudah meliputi 2
unsur lainya (Tafsir Ibnu Katsir jilid 6. Hal: 3055). Sama halnya dengan sya’ir
Arab yang akrab kita dengar “ilmu
layaknya hewan buruan, dan tulisanlah yang mengikatnya”(syair imam
syafi’i). Ibnu Jauzi pernah berkata”
manfaat menulis lebih banyak daripada mengajar dengan lisan, dengan lisan aku
dapat menyampaikan kepada sejumlah orang, dan dengan tulisan aku dapat
menyampaikan kepada orang yang tidak terbatas yang hidup sesudahku”, Buya
Hamka juga pernah berwasiat” menulislah
terus tanpa henti, suarakan hati nuranimu. Kemudian setelah itu biarlah tulisan
itu mengikuti takdirnya sendiri”.
Kiranya
memang benar, tradisi membaca dan menulis patut kita perhatikan lebih intens lagi, karena denganya peradaban
islam di awal abad hijriyah benar-benar mempengaruhi kegiatan keilmuan, ekonomi, politik bahkan
keagamaan yang tidak bisa kita nafikan kejayaanya di seluruh mata dunia timur
sampai barat. Darul ulum di zaman fatimiah mesir, nizamiya di zaman arsalan
saljouqi baghdad, andalusia di zaman muhammad I spanyol, dan masih banyak
lainya yang telah menjadi bukti sejarah bahwa dengan tradisi baca tulis adalah
modal utama dalam membangun peradaban suatu ummat yang cemerlang.
Dengan
ini semua kita bisa menyadari, hancurnya seseorang/ ummat ada pada waktu
luangnya, tiada modal yang paling berharga dalam hidup ini melebihi dari sebuah
waktu, maka membacalah! Karena denganya waktu kita selalu bermanfaat tanpa
beban, dengan membaca kita meluaskan wawasan, dengan membaca kita telah menaati
perintah pertama kali Allah SWT yang di serukan
kepada kekasih kita Nabi Muhammad SAW, dan Saat kita sudah gemar
membaca, maka menulislah! tebarkan keindahan islam sebanyak-banyaknya. karna
denganya; insyaallah amal jariyah ada didalam genggaman kita, amin.

Komentar
Posting Komentar