Belajar Tanpa Henti



BELAJAR TANPA HENTI
(secuil dari Koridor)


BELAJAR TANPA HENTI

Buku yang berjudul Ilusi Negara Islam bisa dibaca dari sudut pandang politik dan pendidikan. Secara politik, buku ini bisa menjadi peringatan bagi bangsa indonesia tentang adanya bahaya tersembunyi dalam gagasan dan usaha-usaha untuk mengubah dari negara bangsa menjadi negara agama, Negara Islam. Hal ini tidak hanya berbahaya bagi bangsa Indonesia, tetapi juga bagi Islam sendiri. Bagi bangsa Indonesia, perubahan menjadi Negara agama akan menjadi awal reduksi kekayaan budaya dan kebebasan beragama, tidak hanya bagi non-muslim juga bagi muslim sendiri. Bagi non-Muslim, perubahan ini dapat membuat mereka mengalami aliensasi psikologis dan sosial di sebuah negara yang menganut keyakinan resmi berbeda dengan keyakinan yang mereka anut. Sedangkan bagi muslim, perubahan ini akan berarti penyempitan, pembatasan, dan hilangnya kesempatan untuk menafsirkan pesan-pesan agama sesuai dengan konteks sosial dan budaya bangsa Indonesia, dan setiap pembacaan yang berbeda dari tafsir resmi Negara akan menjadi subversif dan harus dilarang.

Bagi islam sendiri, formalisasi akan mengubahnya dari agama menjadi ideologi yang batas-abatasanya akan ditentukan bedasarkan kepentingan politik. Islam yang semula bersifat terbuka dan luas, hidup layaknya organisme yang komunikatif dan interaktif dengan situasi dan kondisi para penganutnyya, dan akan dibungkus dalam kemasan ideologis dan berubah menjadi monumen yang diagungkan tanpa peduli pada tujuan sejati dan luhur agama itu sendiri, akhirnya agama menjadi ghayah, tujuan akhir, bukan lagi jalan sebagaimana semula ia wahyukan. Keridaan Allah yang merupakan ghayah pun semakin jauh.

Usaha-usaha menjadikan islam sebagai ideologi dan mewujudkan Negara Islam boleh jadi di sebabkan adanya semangat yang berlebihan, namun tidak didukung oleh pengetahuan yang memadai. Semangat yang berlebihan dapat mendorong seseorang untuk memutlakan pengetahuan yang dicapai, sekalipun bersifat parsial. Akibatnya, pengetahuan lain yang berbeda dipandang sebagai salah dan harus ditolak. Menarik membndingkan pemahaman ini denga hikayat “Meraba Gajah dalam Gelap”, lima orang berselisih tentang gajah semata karena mereka masing-masing merbanya dalam gelap, dalam terbatasnya jangkauan pengetahuan, dan dalam ketiadaan cahaya (hidayah).

Bagi siapapun yang mengerti sepenuhnya tentang gajah, sungguh menggelikan mendengar kelima orang itu terus berselisih, bersikeras memaksakan definisinya tentang gajah hasil rabaan yang dilakukanya. Sialnya lagi, karena memang tidak percaya diri dengan pengetahuanya yang dicapainya, ada diantara mereka yang berusaha menjadikan pemahamanya tentang gajah menjadi madzhab resmi, sementara pemahaman rekannya yang berbeda, karena merasa menjadi  ancaman bagi pandanganan resminya, dipandang subversif dan harus dibungkam.

Tidak berhenti di situ saja. Karena semangat berlebihan dan merasa mengamalkan sabda Nabi, “sampaikanlah dariku walau satu ayat,”_kembali ke hikayat gajah_ada saja yang bersikeras dan memaksa orang lain mengakui bahwa gajah seperti pohon, atau ayunan, atau tembok atau pecut,atau kipas. Atau, dalam realitas interaksi sosial-religius islam direduksi menjadi ideologi dan seperangkat konklusi hukum semata, yang hanya mewakili sebagian kecil aspek ajaran islam Sendiri. Semangat menyampaikan dari Rasulullah SAW yang terlalu besar, ternyata sering membuat orang memahami sabda beliau itu hanya menjadi “sampaikan dariku cukup satu ayat saja.” Dan semakin parah lagi bila yang bersangkutan menanggapi bahwa satuayatyang dimilikinya itu adalah satu-satunya kebenaran yang harus disampaikan ke mana-mana dengan mepersetankan ayat-ayat lainya.

Andai masing-masing terus belajar, saling mendengarkan dengan yang lain, tentu pemahaman mereka akan lebih baik dan lengkap. Karena sebenarnya, kebenaran kita berkemungkinan salah, dan kesalahan orang lain berkememungkinan benar. Siapapun yang telah tertutup mata hatinya_antara lain karena merasa diri paling pintar dan benar_ tidak akan mampu melihat pemahaman lain yang berbeda, yang tersisa adalah arogansi(takabbur) dan penolakan terhadap yang lain. Ketika arogansi dimulai, ketika mendengarkan orang lain diakhiri, ketika belajar dihentikan, maka kebodohan dimulai, suatu kkeadaan yang sangat berbahaya bagi yang bersangkutan dan seluruh umat manusia.

Kebodohan adalah bahaya tersembunyi yang ada dalam setiap orang, mengatasinya adalah dengan terus belajar dan teruus mendengarkan orang lain. Karena kebodohan pula ada orang-orang yang berusaha menyenangkan Nabi dengan hanya meniru penampilan lahiriyahnya, namun mengabaikan aspek khuluqiyah-nya; ada yang ingin menyenangkan tuhan dengan membangun negara agama namun mengubah agama itu sendiri dari semula sebagai jalan kemudian menjadi tujuan akhir. Mereka berfikir, Kanjeng Nabi Muhammad SAW, akan bahagia jika umatnya memakai busana sebagaimana beliau pakai 14 abad yang lalu; mereka berfikir, Allah SWT akan senang(ridlo) jika islam dijadikan ideologi resmi negara dan hambanya membangun negara agama, Negara Islam.dalam hal ini mereka lupa bahwa Kanjeng Nabi Muhammad SAW telah menegaskan dir bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia, akhlak yang luhur (inni bui’istu li utammima makarim al-akhlaq), mereka juga lupa bahwa satu-satunya prinsip dan tujuan diutusnya Raul Allah adalah sebagai rahmat bagi seluruh umat makhluk(wa ma arsalnaaka illa rahmatan lil alamin). Bahkan, dengan berdalih untuk menegakan rahmat ini pun, ada saja yang berusaha memaksa orang lain masuk kedalam apa yang mereka anggap rahmat; sebuah tindakan yang dari sudut pandang mana pun sebenarnya bertentangan dengan semangat rahmat itu sendiri.

Dalam konteks pendidikan dan dalam konteks nilai-nilai luhur pesan utama islam ini, buku Ilusi Negara Islam ini membawa pesan pendidikan yang sangat jelas dan tegas. Bahaya latem atau bahaya tersembunyi yang sebenarnya dari gagassan pembentukan Negara Islam adalah kekurangtahuan yang dibarengi dengan anggapan kesempurnaan pengetahuan. Jika semua orang terus belajar dan mau mendengarkan yang lain, maka mereka akan semaik baik dan menyeluruh dalam memahami islam, mereka tidak akan mereduksi dila menjadi ideologi atau tatanegara. Mereka akan tahu bahwa islam tidak cukup dikemas dalam ideologi, tidak memadai dibungkus dengan sekat-sekat tata negara. Karena itu, gagasan penting dalam buku Ilusi Negara Islam ini adalah mendorong setiap orang untuk terus belajar, perjuangan untuk melawan kebodohan, perjuangan untuk mendorong setiap orang untuk  membuka diri kepada siapapun; perjuangan untuk membebaskan setiap orang dari kotak-kotak ideologis dan kotak-kotak dogmatisyang selama ini telah membelenggu mereka dan telah menjebak mereka memahami ajaran luhur agama hanya sebatas pesan yang bisa ditampung oleh kotak yang mereka bangun.

Sekali lagi, ketidak tahuan bisa diatasi dengan melihat, mendengar, dan memperhatikan. Dengan terus belajar.yang sungguh sulit dan menjadi masalah adalah jika seseorang tidak lagi memerlukan belajar dan mencari kebenaran karena merasa telah sempurna pengetahuanya dan menganggap dirinya paling benar. Siapapun mungkin akan sepakat bahwa kebodohan adalah sesuatu yang sangat berbahaya, namun tidak setiap orang sadar akan bahaya laten dalam dirinya sendiri. ( Musthafa Bisri, Rembang, 9 Februari 2009)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bingkisan Sorgawi

Mahasiswa Dibalik Dilema Pendidikan Indonesia

RUMAH SEJATI