Ad Dawa’         

            Manusia adalah mahkluk yang komprenshif, makhluk yang luas penjabaranya, macam-macam sifatnya, dan terlalu egois jika kita menilai individu dari satu sisinya saja. Namun ada satu sifat yang seyognyanya semua manusia punya yaitu Dha’if atau lemah, Seperti apa yang dijelaskan oleh Allah dalam surat Al Ma’arij(19) bahwa manusia diciptakan lemah, yang dimana apabila datang kepadanya cobaan akan mengeluh, dan jika datang padanya nikmat menjadi kikir atau bahkan sombong. Dalam bahasa Quran lemah ini disebut dengan Haluu’a yang artinya kaget atau kagetan, kaget identik dengan ketidaktahuan atas apa yg di kageti, seperti halnya kaum quraisy kaget saat baginda Rasulullah membelah bulan atas izin Allah, dan kagetnya para penyihir fir’aun karena ular-ularnya dimakan habis oleh tongkat Nabi Musa.
            Ketidaktahuan yang menyebabkan kaget ini adalah ketitidaktahuan tentang darimana, bagaimana, dan kemana diri sendiri ini berlangsung dalam kehidupan, Ibnu Hajar Al Atsqalani (773-852 H) Hafidzuhullah berkata “ Barangsiapa yang menganggap ada musuh yang lebih besar dari dirinya maka sesungguhnya ia belum mengenal benar dirinya sendiri ”. mengenali diri sendiri itu memiliki banyak cara yang sekiranya sudah dipraktekan oleh Nabi-nabi maupun sahabatnya terdahulu bahkan oleh para ulama-ulama Indonesia sendiri, kebanyakan dari mereka mengenali dirinya dengan cara mengenali tuhanya, dengan memahami makhluk-makhluknya, nikmatnya, musibah, dan segala kejadian dalam kehidupan lainya, semua itu bisa dipahami secara baik selama kita menjaga sikap Adil.
            Seringkali masalah dalam hati kita seperti iri, dengki, marah, bangga, dan putus asa adalah implementasi dari ketidak adilan kita sendiri dalam mengelola hati, dan pastinya kurang mengerti akan diri sendiri, setidaknya ada 1 dari 2 sebab yang membuat hati kita sengsara; pertama karena Allah ingin memberi kita ujian agar menjaga ketaatan kepadanya, atau yang kedua karena memang kebodohan yang kita buat sendiri dalam pikiran kita.
            Sudah menjadi kewajiban seorang manusia untuk menghamba kepada tuhanya, karna menghamba bukan berati pasrah atau jor joran dalam urusan dunia, namun menghambakan keinginan, hasrat dan tujuannya untuk di fokuskan hanya untuk satu yaitu “lillahi ta’ala”, tentunya dengan sikap yang adil, yaitu harus mengerjakan segala sesuatu secara maksimal, profesional dan benar, Allahu a’lam.


Cairo, 23 oktober 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bingkisan Sorgawi

Mahasiswa Dibalik Dilema Pendidikan Indonesia

RUMAH SEJATI